Hukum Meminum Khamr: Ditinjau berdasar Perbandingan Pendapat Para Ulama

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Khamar merupakan sejenis minuman yang memabukkan. Dalam Islam, sudah tercantum dengan jelas pada sumber-sumber hukum Islam bahwa hukum meminum khamar adalah haram dan berakibat pada perilaku pidana. Hal ini berlandaskan bahwa meminum khamr dapat merusak kesehatan akal. Padahal akal adalah hal terpenting yang dimiliki manusia karena dengan akallah manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Peminum khamar, ketika dia tidak dapat mengendalikan akalnya maka bisa saja ia melakukan perbuatan tercela seperti pembunuhan maupun pemerkosaan. Tidak hanya itu, meminum khamar secara berkesinambungan juga dapat merusak jiwa dan bahkan dapat menguras harta. Dikatakan merusak jiwa karena dengan mengonsumsi khamar secara berlebihan akan berakibat pada rusaknya organ tubuh manusia, setiap tetes khamar yang notabene mengandung alkohol dapat menyebabkan darah menguning, implikasinya bisa saja kondisi organ dalam seseorang terganggu hingga berakibat pada kematian. Kemudian dikatakan pula bahwa keseringan meminum khamar dapat menjadikan konsumsi berlebih yang hanya membuang-buang uang, dikarenakan harga yang sangat mahal untuk seteguk khamar. Hal ini pun dapat memengaruhi kehidupan rumah tangga seseorang karena pengeluaran yang tidak berguna.
Apabila hukum meminum khamar dikaji secara Islam, maka dari pengertian khamar saja sudah menimbulkan perbedaan pendapat. Mana yang dimaksud minuman yang memabukkan menurut para ulama. Tidak hanya itu, ulama pun memperdebatkan masalah hukuman yang tepat untuk mengadili pelaku. Hal ini terjadi lantaran di dalam Al-Qur’an dan Hadits memang tidak dicantumkan hukum pasti untuk menjatuhkan si pelaku, sehingga sangat memungkinkan terjadi silih pendapat.

I.2 Tujuan
Pada dasarnya makalah ini berupaya menguraikan secara jelas dan terperinci mengenai hukum dari meminum khamar beserta hukumannya yang dijabarkan melalui pendapat-pendapat para ulama. Perinciannya dapat meliputi dalil-dalil yang menguatkan pendapat ulama serta sebab-sebab mengapa bisa terjadi perbedaan pendapat.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Meminum Khamar
Khamar adalah minuman memabukkan. Khamar dalam bahasa Arab berarti “menutup”. Istilah menutup di sini adalah sesuatu yang bisa menutup akal. Menurut pengertian urfi pada masa itu, khamar adalah apa yang bisa menutupi akal yang terbuat dari perasan anggur. Sedangkan dalam pengertian syara’, khamar tidak terbatas pada perasan anggur saja, tetapi semua minuman yang memabukkan dan tidak terbatas dari perasan anggur saja. Rasulullah saw. bersabda:
وعن ابن عمر رضى الله عنهما اّنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : كلّ مسكر خمر وكلّ مسكر حرام
Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Nabi saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram” (HR. Muslim)
Hadits itu menunjukkan bahwa khamar tidak terbatas terbuat dari perasan anggur saja, sebagaimana makna urfi tetapi mencakup semua yang bisa menutupi akal dan memabukkannya. Setiap minuman yang memabukkan dan menutupi akal layak disebut khamar, baik terbuat dari anggur, gandum, jagung, kurma, maupun lainnya.
Jika khamar diharamkan karena zatnya, sementara pada hadits di atas dinyatakan bahwa berarti itu menunjukkan bahwa sifat yang melekat pada zat khamar adalah memabukkan. Karena sifat utama khamar itu memabukkan, maka untuk mengetahui keberadaan zat khamar itu atau untuk mengenali zatnya adalah dengan meneliti zat-zat apa saja yang memiliki sifat memabukkan.
Kini, setelah dilakukan tahqiiq al-manath (penelitian terhadap fakta) oleh para kimiawan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa zat yang memilki sifat memabukkan adalah etil alkohol atau etanol. Zat inilah yang memiliki khasiat memabukkan . Walaupun gugus alkohol itu tidak hanya etanol, masyarakat secara umum menyebutnya dengan nama alkohol saja. Zat inilah yang menjadi penyebab sebuah minuman bisa memabukkan. Dengan melalui proses fermentasi, benda-benda yang mengandung karbohidrat, seperti kurma, anggur, singkong, beras, jagung, dan lain-lain, dapat diproses menjadi minuman memabukkan. Apabila diteliti, setelah dilakukan proses fermentasi pada benda-benda tersebut adalah munculnya etil alkohol yang sebelumnya tidak ada.
Maka dapat disimpulkan bahwa setiap minuman yang beralkohol adalah khamar dan hukumnya haram, baik kadar alkoholnya tinggi atau rendah. Bukan karena bisa memabukkan atau tidak bagi peminumnya. Bukan pula sedikit atau banyaknya yang diminum. Juga bukan karena diminum sebagai khamar murni atau dicampur dengan minuman lainnya. Sebab, diharamkannya khamar semata-mata karena zatnya.
Untuk memahami makna peristilahan minuman memabukkan dan jenisnya, maka dapat pula dilihat dari Peraturan Menteri Kesehatan RI No.86 Tahun 1997 yang memberi pengertian minuman keras (minuman memabukkan) adalah semua jenis minuman yang beralkohol tetapi bukan obat, dan mempunyai kadar alkohol yang berbeda-beda .
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa minuman memabukkan adalah segala yang memabukkan termasuk obat-obat yang terlarang lainnya. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dimaksud dalam hukum Islam, yaitu minuman memabukkan tidak hanya terbatas pada zat benda cair saja, tetapi termasuk pula benda padat, yang pada intinya apa saja yang memabukkan itulah minuman khamar.
Para fuqaha berbeda pendapat mengenai definisi meminum khamar. Menurut Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal, meminum minuman yang memabukkan hukummnya sama, baik dinamakan khamar (minuman keras) maupun yang bukan. Khamar diidentikkan sejenis minuman yang terbuat dari perasan anggur maupun jenis bahan lainnya, misalnya kurma, kismis, gandum, atau beras yang memabukkan dalam kadar sedikit maupun banyak.
Khamar menurut Imam Abu Hanifah adalah minuman yang diperoleh dari perasan anggur. Dengan demikian, Imam Abu Hanifah membedakan antara “khamar” dan “muskir”. Khamar, hukum meminumnya tetap haram baik sedikit maupun banyak. Adapun selain khamar, yaitu muskir yang terbuat dari bahan-bahan selain perasan buah anggur yang sifatnya memabukkan, baru dikenakan hukuman apabila orang yang meminumnya mabuk. Apabila tidak mabuk maka pelaku tidak dikenai hukuman.
Islam melarang khamar secara berangsur-angsur, karena pada saat itu minuman keras sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan oleh orang Arab. Berikut nash-nash yang menjelaskan tentang khamar :

“dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl:67)

Kurma dan anggur adalah komoditas ekonomi jazirah arab, sejak dahulu kala. Komoditi tersebut selain diperdagangkan secara natural (alami) juga diolah menjadi minuman yang memabukkan. Seperti halnya buah aren bisa diolah menjadi tuak yang memabukkan. Di sini Allah menyatakan secara tersirat bahwa dari kedua buah tersebut dapat diolah menjadi rezeki yang baik (perdagangan alami) dan hal yang tidak baik (minuman yang memabukkan).
‘Umar bin Khattab beserta para sahabat yang lain bertanya kepada Rasulullah SAW perihal minuman yang memabukkan dan menghilangkan akal. Sahabat-sahabat tersebut memang sudah biasa minum khamar. Dua orang sahabat Rasulullah SAW yang semasa masih jahiliyah tidak pernah minum khamar adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan.
Sehubungan dengan pertanyaan tentang khamar tersebut maka turunlah ayat yang berbunyi :

“mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Setelah ayat kedua tentang khamar dan judi turun, pada suatu saat Abdurrahman bin Auf mengundang teman-temannya untuk minum khamar sampai mabuk. Ketika waktu shalat tiba, salah seorang yang menjadi imam membaca surat al-Kafirun secara keliru disebabkan pengaruh khamar. Maka turunlah ayat ketiga:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 43)

Ayat ini belum mengharamkan minuman keras dan judi secara mutlak, maka sebagian umat Islam pada waktu itu masih meminumnya. Selain berkaitan dengan mabuk, ayat ini berlaku umum bahwa orang yang mengerjakan shalat harus memahami/mengerti makna bacaan shalatnya karena ada kalimat “sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. Objek sasaran ayat tersebut adalah bagaimana mengerti apa yang diucapkan dalam shalat, bukan pada mabuknya. Sedangkan mabuk adalah salah satu penyebab dari tidak memahami apa yang diucapkan dalam shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)
Dengan turunnya ayat ini maka hukum meminum khamar dan judi telah secara tegas dan jelas dinyatakan sebagai perbuatan yang haram.

II.2 Unsur-Unsur Pidana Meminum Khamar
Unsur-unsur jarimah minuman Khamar ada dua macam, antara lain:
1. Asy-Syurbu (meminum)
Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa unsur meminum ini terpenuhi apabila pelaku meminum sesuatu yang memabukkan. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan apakah yang diminum itu dibuat dari perasaan buang anggur, gandum, kurma, tebu, maupun bahan-bahan lainnya. Demikian pula tidak diperhatikan kadar kekuatan memabukkannnya, baik sedikit maupun banyak, hukumannya tetap haram.
Akan tetapi, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa unsur pertama ini tidak dapat terpenuhi kecuali apabila yang diminum itu khamar. Apabila pendapat jumhur ulama tersebut diikuti, maka semua jenis bahan yang memabukkan hukumnya tetap haram, seperti ganja, kokain, heroin, dan semacamnya. Hanya saja karena ‘meminum’ merupakan unsur penting dalam jarimah minuman khamar, maka bahan-bahan yang dikonsumsi tidak dengan jalan diminum, tidak mengakibatkan hukuman had, melainkan hukuman ta’zir. Seseorang dianggap meminum apabila barang yang diminumnya telah sampai ke tenggorokan. Apabila tidak sampai ke tenggorokan maka dianggap tidak meminum.
Seseorang meminum khamar dengan alasan untuk pengobatan, para fuqaha berbeda pendapat mengenai status hukumnya. Namun menurut pendapat yang rajih dalam mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, berobat dengan menggunakan khamar merupakan perbuatan yang dilarang, dan peminumnya dapat dikenai hukuman had. Dalil yang menguatkan pendapat tersebut ada dalam hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ummi Salamah:
عَنْ امّ سلمة رضى الله عنها عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : إنّ الله لم يجعل شفاء كم فيما حرّم عليكم ( اخرجه البيهقى و صححه ابن حبّا ن )
“Dari Ummi Salamah ra. Dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan di dalam barang yang diharamkan atas kamu” (oleh Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Ibn Hibban)
Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, berobat dengan khamar hukumnya boleh asalkan tidak ada obat yang halal yang dapat menyembuhkan penyakit itu.
2. Niat yang melawan hukum
Seseorang yang tahu bahwa yang diminumnya adalah khamar, maka ia dianggap telah melawan hukum. Berbeda dengan seseorang yang meminum khamar tetapi tidak menyangka bahwa yang diminumnya itu adalah khamar, maka ia tidak dikenai hukuman had.

II.3 Pembuktian untuk Pidana Meminum Khamar
Pembuktian dalam jarimah meminum khamar dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Saksi
Jumlah minimal saksi yang diperlukan sebagai upaya pembuktian jarimah meminum khamar adalah dua orang laki-laki atau empat orang wanita. Menurut Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf ra, saksi harus mencium bau minuman yang memabukkan ketika menyaksikannya.
2. Pengakuan
Begitu pun dengan pengakuan dapat dilakukan cukup satu kali dan tidak perlu diulang-ulang sampai empat kali.
3. Qarinah
Pada pembuktian qarinah atau tanda, maka dapat dilihat pada bau minuman keras dari mulut orang yang meminum. Akan tetapi Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan pendapat yang rajih dari Imam Ahmad berpendapat bahwa bau minuman semata-mata tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti, karena mungkin saja ia sebenarnya tidak minum, melainkan hanya berkumur-kumur. Kemudian qarinah yang lain dapat dilihat dari mabuknya seseorang. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik sependapat apabila seseorang sedang mabuk kemudian dilihat oleh dua orang saksi, dan dari mulutnya keluar bau minuman keras, maka orang itu dapat langsung dikenai hukuman had. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berbeda pendapat, karena mabuk bukanlah semata-mata seseorang dengan sengaja meminum khamar, bisa saja orang tersebut dipaksa melakukannya. Qarinah berikutnya yakni muntah, Imam Malik berpendapat bahwa muntah merupakan alat bukti yang lebih kuat daripada sekadar bau minuman, karena pelaku tidak akan muntah kecuali setelah meminum khamar. Akan tetapi, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, tidak menganggap muntah sebagai alat bukti, kecuali apabila ditunjang dengan bukti-bukti lain, semisal terdapatnya bau minuman keras dari mulut pelaku.

II.4 Hukuman untuk Peminum Khamar
Menurut Imam Abu Hanifah, ada dua jenis hukuman bagi orang yang meminum minuman keras dan hukuman mabuk, yakni (1) Hukuman hudud karena meminum minuman keras tanpa memandang apakah peminumnya mabuk atau tidak, meminum sedikit atau banyak, (2) Hukuman hudud karena mabuk, yang diberikan kepada orang yang meminum minuman selain khamar, yang jika diminum dalam jumlah tertentu bisa membuat mabuk. Jika ia diminum dan tidak mabuk, maka ia tidak dihukum.
Imam yang lain mengatakan bahwa hukuman hudud hanya satu yaitu hukuman hudud karena meminum minuman. Atas dasar ini, setiap orang yang meminum minuman, yang jika diminum dalam jumlah banyak bisa memabukkan, akan dijatuhi hukuman hudud. Perlakuan ini tidak memandang apakah minuman itu bernama khamar atau nama lainnya, apakah peminumnya mabuk atau tidak. Ini merujuk pada kaidah:
“sesuatu yang (ketika) banyak memabukkan, (ketika) sedikit hukumnya haram”
Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa orang yang meminum minuman keras harus didera sebanyak 80 kali. Namun Imam Syafi’i berbeda pendapat bahwa hukuman hudud atas tindak pidana ini adalah 40 kali dera. Akan tetapi tidak ada halangan bagi penguasa untuk mendera pelaku sampai 80 kali jika ia memiliki kebijakan seperti itu. Jadi, hukuman peminum minuman keras adalah 40 kali dera dan selebihnya yaitu 40 deraan lainnya adalah hukuman takzir.
Perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha dalam menentukan kadar hukuman hudud disebabkan tidak adanya ketentuan dalam Al-Qur’an tentang hukuman tersebut. Selain itu, riwayat yang ada tidak menyebutkan dengan pasti adanya ijma’ para sahabat tentang hukuman hudud tersebut.
Hal yang melatarbelakangi jumlah hukuman dera 40 kali yakni pada masa Abu Bakar ra. saat itu Abu Bakar bertanya kepada para sahabat tentang berapa jumlah dera bagi peminum khamar. Sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mendera hingga 40 kali.
Namun pada masa Umar bin Khatab ra, saat itu masyarakat risau akibat maraknya orang yang meminum minuman keras. Akhirnya Umar menetapkan hukuman hudud sebanyak 80 kali dera.
Adapun sebab terjadinya perbedaan dalam penentuan hukuman ini adalah karena nash yang qath’i yang mengatur tentang hukuman had bagi peminum khamar itu tidak ada. di samping itu, tidak ada riwayat yang memastikan adanya ijma’ sahabat dalam penetapan hukuman had bagi peminum khamar. Walaupun Al-Qur’an mengharamkan khamar, yang kemudian diperkuat oleh hadits Nabi, namun untuk hukumannya sama sekali tidak ditetapkan secara pasti. Rasulullah menghukum orang yang meminum khamar dengan pukulan yang sedikit atau banyak, tetapi tidak lebih dari 40 kali. Pada masa pemerintahan khalifah Umar, beliau bingung memikirkan orang-orang yang bertambah banyak meminum khamar. Beliau mengadakan musyawarah dengan para sahabat untuk menetapkan hukumannya. Di antara sahabat yang berbicara adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau mengatakan bahwa hukuman had yang paling ringan adalah 80 kali dera. Sayidina Umar akhirnya menyetujui pendapat tersebut dan ditetapkan sebagai keputusan bersama.
Fuqaha yang menganggap bahwa hukuman had untuk peminum khamar itu 80 kali berpendapat bahwa para sahabat telah sepakat (ijma’), sedangkan ijma’ juga merupakan salah satu sumber hukum (dalil) syara’. Akan tetapi, mereka yang berpendapat bahwa hukuman had bagi peminum khamar itu 40 kali dera beralasan dengan sunah, yang kemudian diikuti oleh Khalifah Abu Bakar. Mereka berpendapat bahwa tindakan Nabi saw. itu merupakan hujjah yang tidak boleh ditinggalkan karena adanya perbuatan orang lain. Dan ijma’ tidak boleh terjadi atas keputusan yang menyalahi perbuatan Nabi dan para sahabat. Dengan demikian, mereka menafsirkan kelebihan 40 kali dera dari Sayidina Umar itu merupakan hukuman ta’zir yang boleh diterapkan apabila hakim memandang perlu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali, Prof. Dr. H. Zainuddin, MA, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, cet.2
2. Wardi Muslich, Drs. H. Ahmad, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2005
3. Ensiklopedia Hukum Pidana Islam, Jilid IV, Bogor: PT. Kharisma Ilmu
4. http://jamilkusuka.wordpress.com/2010/05/21/delik-mabuk-mabukan-khamr-dalam-islam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s